Malam ini saya mau menceritakan tentang sebuah rumah yang selalu saya nantikan ketika Ramdhan tiba.
Rumah ini sangat sederhana tapi nyaman. Ketika pagi kau akan menemukan kabut di sekitarnya dan jika matamu cukup jeli kaupun akan menemukan embun di atas daun beluntas yang menjadi pagar rumah ini.
Sebelum melangkahkan kakimu ke pekarangan kau akan menemukan pohon kelapa menjulang tinggi, di sampingnya ada pohon salak yang kadang berbuah manis tapi kadang juga kecut.
Tangga halamannya unik, tersusun dari batu sungai yang besar dan beberapa ada yang berbentuk kotak. Kalau aku tidak salah ada sekitar 5 anak tangga. Pas di puncak anak tangganya kau tepat berdiri di depan rumah itu lebih tepatnya di tiang penyangganya. Rumah itu adalah rumah panggung. Dulu, sebelum naik ke tangga rumah ada semacam kendi disana, didalamnya ada air hujan yang telah di tampung gunanya untuk mencuci kakimu jika kotor karena lumpur. Tangganya sederhana, terbuat dari kayu. Setelah melewati beberapa anak tangga kau akan sampai ke berandanya. Ini salah satu bagian favorit ku dari rumah ini. Dulu di atas beranda tergantung sejenis tanaman berdaun gemuk. Aku suka mencabutnya dan menulis namaku di papan.
Ketik kau masuk kau akan melihat ruang tamu, ruang nonton, kamar, dan sedikit dapur. Kecil memang. Sofanya dari kayu dengan bantalan gabus dibungkus kulit pabrikan berwarna merah marun. Aku suka bermain di belakang sofa itu padahal dulu ku anggap angker karena disitu tokek biasa muncul. Dulu ada tv jadul disitu dan di belakang tv itu ada ranjang kakek, aku suka naik disana dan memandang jejeran gunung, mangga macan tetangga, pohon jambu, pohon kelapa dan kadang burung Elang lewat jendela. Jendelanya besar loh, terbuat dari kaca terususun tiga di setiap sisinya.
Disamping ranjang kakek, ada kamarnya nenek, paling sudut. Di kamar itu cuma ada tiga benda. Lemari baju, tempat tidur dan sejenis papan yg di rekatkan didinding dan kau bisa menyimpan barang-barang diatasnya seperti jarum benang, alat make up, buku dll. Kamar ini memiliki ciri khas yaitu baunya seperti bau merica di campur udara dingin. Nenek menyimpan cadangan merica di bawah tempat tidur. Sejuk aja kalau saya tidur di sana.
Di samping kamar itu adalah dapur, dapur yang aneh karena di sudutnya ada ranjang dan diatasnya banyak jagung kering. Tapi apapun yang dimasak di dapur ini pasti enak. Pasti! Ada kompor dari tanah liat atau biasa di sebut dapo' di ujung dapur. Disampingnya di tumpukkan berbagai macam panci dan Periuk. Kalau kau tak hati-hati tanganmu bisa hitam terkena arang saat meraih panci-panci itu. Ada satu benda yang membuat ku merasa sangat special dilahirkan sebagai cucu pertama. Tempat piring. Yah di bagian pintu tempat piring itu tertulis namaku "FITHRAH" dari arang. Entah siapa yang menulisnya. Kau mau tau rahasia agar Indomie mu terasa nikmat bila dimakan? Gunakan piring kaleng dengan motif hijau dab putih macam tentara. Dan kalau bisa Indomie kau ganti dengan intermie sekali-kali.
Dan bagian yg paling "ekstrem" adalah di beranda belakang. Tempat ayam membuang tinja seenak jidat. But, don't worry. Ada dua darong air diujung tangga menantimu. Kau bisa cuci kakimu disana jikalau saat lewat tangga kau menginjak hmm.. tai manuk.
Di belakang rumah ada pohon nanas, pohon jeruk bali, pohon kopi, pohon merica, jambu batu, sereh, nanas, Lombok, dan tempat bakar sampah. Paling gereget kalau disuruh sapu di bagian ini karena sometimes kau akan menemukab kalonai alias kaki seribu. Hahaha
Di bawah rumah, ada pangkak2 tempat nongkrong main kartu bukan judi yah, cerita2, main ayunan. Wahh banyak deh.
Kalau ada kenalan lewat tinggal teriak "leppang" artinya singgah woy heheeh sopan sakali.
One of the most beautiful moment that I always remember is subuh sebelum berangkat sholat idul Fitri, aku akan menemukan nenek indo di bawah rumah sedang kupas kelapa dengan rambutnya yg masih hitam, kebaya, dan sarung.
"Apa di bikin nenek indo?"
"Kupas kelapa, kenapa ko tidak pergi mandi?"
"Dingin".
Dan sayup-sayup suara takbir mengalun. Rumah itu, dengan dinding kayu cokelat tuanya adalah Ramadhan bagiku..
Terima kasih
Denpasar, sudah masuk Selasa 20 Februari 2018
(Tidak bisa tidur gara-gara rindu rumah Ramadhan)
Sehat terus nenek indo, Sipakamoja love you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar