Arrrrghhhhhh….
Rasanya sakit sekali ketika sesuatu
itu keluar dari rahim Reva. Berbulan-bulan dia rawat dengan penuh kasih sayang
dan perjuangan akhirnya hari itu semua terbalaskan. Bukan main, tiga pasang bayi
kembar. Satu laki-laki dan dua perempuan. Mereka imut dan menggemaskan sekali.
Setiap hari kegiatan Reva dipenuhi
oleh kesibukkan mengurus si kecil. Di bersihkan, di elus-elus dan di susui.
Menjadi seorang ibu ternyata sangat mengasikkan. Belum lagi majikan Reva yang
senantiasa memberi dukungan kepadanya. Sebuah kamar khusus disediakan untuknya
dan ketiga anak-anaknya.
Namun itu adalah kejadian sebulan
yang lalu. Sebulan yang penuh dengan kasih sayang. Sekarang kehipan yang
sebenarnya dimulai lagi. Setiap pagi setelah matahari terbit, dengan penuh semangat
Reva mencari sesuap nasi dari satu tempat ke tempat lain. Tapi hasil yang
didapat tidak sebanding dengan perjuangannya. Saat mentari mulai turun
keperaduaanya, lelah menyinari bumi begitupun dengan Reva, dia pulang kembali
dengan tenaga terkuras habis dan perut yang belum terisi.
Baru sampai di depan kamar, si anak
mulai menangis tak karuan. Rupanya sejak siang tadi mereka kelaparan karena
tidak ada yang memberi makan. “cup, cup, iya sayang. ibu ada disini” bisik Reva
ketika mendekati anak-anaknya. Setelah memberikan ASI kepada anaknya, tiba-tiba
kepala Reva pusing, matanya berkunang-kunang, seluruh badannya bergetar. “oh
tidak, aku tidak mau mati sekarang, anak-anakku masih membutuhkanku.” Ucap Reva
ditengah usahanya mecoba menguasai diri sendiri.
Kejadian itu sudah sering dialami Reva.
Mungkin itu efek terlalu lelah mengerjakan semua tugas seorang ibu. Belum lagi kondisinya yang baru melahirkan
dan menyusui tentu memerlukan asupan kalori yang banyak. Tidak
ada yang bisa menolongnya. Majikannya hanya mampu memberikan kamar
sebagai tempat berlindung, selebihnya mereka tidak bisa membantu apa-apa karena
majikannya juga sama-sama kekurangan makanan seperti dirinya. Apalah mau
dikata, kehidpan tidak seindah dongeng sebelum tidur.
Setelah menyusui ketiga anaknya, Reva
sudah tidak sanggup lagi, tubuhnya rubuh, tatapannya gelap, dia benar-benar
lelah. Tidak ada kekuatan lagi untuk mencari sesuap nasi diluar sana, dia
pingsan.
Reva tersadar oleh suara tangisan
bayi-bayinya. Rupanya dia telah pingsan selama enam jam. Itu rekor terlama
mengingat sebelum-sebelumnya dia hanya pingsan selama beberapa menit saja.
“anakku pasti lapar.” Pikirnya dalam hati. Disusuilah kedua bayinya. Namun saat
yang ketiga mulai menyusu, ternyata ASI Reva sudah tidak bisa keluar. Habis.
Sontak saja hal ini membuat sikecil menangis sejadi-jadinya karena kelaparan.
Sedangkan kedua suadaranya sudah tertidur pulas karena kekenyangan. Saat itulah
muncul bisikan aneh didalam hati Reva.
“Tidak! Aku tidak boleh melakukan itu.” Reva mencoba melawan
bisikan aneh didalam dirinya. Bisikan itu terus menerus menghantui Reva. “Kau
akan menyelamatkan tiga kehidupan, pikirkanlah.” Begitulah bisikan itu
terngiang didalam benak Reva.
Tangisan si bungsu membuat Reva
semakin kalut. Perasasaan keibuannya benar-benar diuji. Reva melihat kedua
anaknya yang tertidur pulas dan satu anaknya yang sedari tadi menangis tanpa
henti. Beberapa saat kemudian, Reva sudah mebuat keputusan. Keputusan yang
tidak bisa lagi diganggu gugat. Keputusan yang akan mengubah kehidupannya. “aku
akan menyelamatkan tiga kehidupan.” Pikirnya mantap.
Reva menatap si kecil dengan
tatapan tidak seperti biasanya. Lidanya mulai menjulur dan menjilati bagian
kepala si bayi dilanjutkan keseluruh wajah. Tangisan sikecil semakin keras. Aneh,
bukan perasaan Iba yang dirasakan Reva malah sebalinya dia tersenyum menakutkan,
dan tepat saat lidanya menyentuh batang leher si kecil “KRAK!” hanya sekali
gigit, leher itu patah meninggalkan bekas robek dan kelurlah darah segar
mengalir memenuhi mulut dan wajah Reva. Tangisan sikecil berhenti. Ada sensasi aneh saat merasakan darah itu
mengalir ke tenggorokannya dan menyentuh ususnya. Rasa laparnya selama
berminggu-minggu memaksanya merobek leher mungil itu semakin lebar. Habislah
sudah kehidupan sikecil. Nafasnya telah hilang. Dia harus menerima nasib
sebagai yang di “korbankan”. Yah! Reva telah memilih menyelamatkan tiga
kehidupan yaitu kehidupannya dan kedua anaknya dan mengorbankan kehidupan si
kecil.
Pagi harinya saat sang majikan
bangun, betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan mengerikan didepan mata.
Mereka melihat kedua anak Reva sedang menyusu ke ibunya sedangkan ibunya
sendiri sedang memakan bangkai anaknya yang lain yang ia mangsa semalam. Tanpa
rasa bersalah, dengan rakus Reva menjilati usus si anak yang mulai berceceran
dilantai..
PS: Reva itu nama kucing peliharaan. :D
Kisah diatas saya alami sendiri. Saat bangun pagi tiba-tiba
liat kucing peliharaan makan anaknya sendiri bikin bulu kuduk merinding, sepupu
saya bahkan berkaca-kaca matanya karena kasihan hohoho . Tentu hal itu bikin
seisi rumah pada syok. Adek saya bilang itu bukan induknya yang makan tapi
tikus, trus dia juga bilang anaknya itu emang udah mati jadi di makan, yang
terakhir yang paling logis menurut saya karena induk kucing kelaparan. Maklum
lah kitakan pada ngontrak jadi tiap harinya makan mie instan sama nasi. Jarang
banget beli ikan apalagi di tanggal-tanggal tua. Nah, mungkin imbasnya ini ke
kucing peliharaan. Kita jarang kasih makan. (wong, kita aja sukur2 bisa makan
sehari hiks). Setelah baca artikel sana sini, di dapatlah kesimpulan bahwa
induk kucing bisa memakan anaknya sendiri karena beberapa factor salah satunya
karena kelaparan. Sadis yah..
Terkahir saya mau ucapin selamat tinggal dan terima kasih
buat si kecil, pengorbananmu sudah membuka hati kami dan akhirnya ke pasar beli
ikan kering lima ribu buat jadiin makanan emaknya biar saudaranya yang lain
kagak di embat juga.
Thanks yang udah mampir.. sampai berjumpa di post
selanjutnya..
25 februari 2017 Mks
Nurul Fitrah S