Sabtu, 25 Februari 2017

Perjuangan Reva

Arrrrghhhhhh….
Rasanya sakit sekali ketika sesuatu itu keluar dari rahim Reva. Berbulan-bulan dia rawat dengan penuh kasih sayang dan perjuangan akhirnya hari itu semua terbalaskan. Bukan main, tiga pasang bayi kembar. Satu laki-laki dan dua perempuan. Mereka imut dan menggemaskan sekali.
Setiap hari kegiatan Reva dipenuhi oleh kesibukkan mengurus si kecil. Di bersihkan, di elus-elus dan di susui. Menjadi seorang ibu ternyata sangat mengasikkan. Belum lagi majikan Reva yang senantiasa memberi dukungan kepadanya. Sebuah kamar khusus disediakan untuknya dan ketiga anak-anaknya.
Namun itu adalah kejadian sebulan yang lalu. Sebulan yang penuh dengan kasih sayang. Sekarang kehipan yang sebenarnya dimulai lagi. Setiap pagi setelah matahari terbit, dengan penuh semangat Reva mencari sesuap nasi dari satu tempat ke tempat lain. Tapi hasil yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya. Saat mentari mulai turun keperaduaanya, lelah menyinari bumi begitupun dengan Reva, dia pulang kembali dengan tenaga terkuras habis dan perut yang belum terisi.
Baru sampai di depan kamar, si anak mulai menangis tak karuan. Rupanya sejak siang tadi mereka kelaparan karena tidak ada yang memberi makan. “cup, cup, iya sayang. ibu ada disini” bisik Reva ketika mendekati anak-anaknya. Setelah memberikan ASI kepada anaknya, tiba-tiba kepala Reva pusing, matanya berkunang-kunang, seluruh badannya bergetar. “oh tidak, aku tidak mau mati sekarang, anak-anakku masih membutuhkanku.” Ucap Reva ditengah usahanya mecoba menguasai diri sendiri.
Kejadian itu sudah sering dialami Reva. Mungkin itu efek terlalu lelah mengerjakan semua tugas seorang ibu.  Belum lagi kondisinya yang baru melahirkan dan menyusui tentu memerlukan asupan kalori yang banyak.  Tidak  ada yang bisa menolongnya. Majikannya hanya mampu memberikan kamar sebagai tempat berlindung, selebihnya mereka tidak bisa membantu apa-apa karena majikannya juga sama-sama kekurangan makanan seperti dirinya. Apalah mau dikata, kehidpan tidak seindah dongeng sebelum tidur.
Setelah menyusui ketiga anaknya, Reva sudah tidak sanggup lagi, tubuhnya rubuh, tatapannya gelap, dia benar-benar lelah. Tidak ada kekuatan lagi untuk mencari sesuap nasi diluar sana, dia pingsan.
Reva tersadar oleh suara tangisan bayi-bayinya. Rupanya dia telah pingsan selama enam jam. Itu rekor terlama mengingat sebelum-sebelumnya dia hanya pingsan selama beberapa menit saja. “anakku pasti lapar.” Pikirnya dalam hati. Disusuilah kedua bayinya. Namun saat yang ketiga mulai menyusu, ternyata ASI Reva sudah tidak bisa keluar. Habis. Sontak saja hal ini membuat sikecil menangis sejadi-jadinya karena kelaparan. Sedangkan kedua suadaranya sudah tertidur pulas karena kekenyangan. Saat itulah muncul bisikan aneh didalam hati Reva.
“Tidak! Aku tidak boleh melakukan itu.” Reva mencoba melawan bisikan aneh didalam dirinya. Bisikan itu terus menerus menghantui Reva. “Kau akan menyelamatkan tiga kehidupan, pikirkanlah.” Begitulah bisikan itu terngiang didalam benak Reva.
Tangisan si bungsu membuat Reva semakin kalut. Perasasaan keibuannya benar-benar diuji. Reva melihat kedua anaknya yang tertidur pulas dan satu anaknya yang sedari tadi menangis tanpa henti. Beberapa saat kemudian, Reva sudah mebuat keputusan. Keputusan yang tidak bisa lagi diganggu gugat. Keputusan yang akan mengubah kehidupannya. “aku akan menyelamatkan tiga kehidupan.” Pikirnya mantap.
Reva menatap si kecil dengan tatapan tidak seperti biasanya. Lidanya mulai menjulur dan menjilati bagian kepala si bayi dilanjutkan keseluruh wajah. Tangisan sikecil semakin keras. Aneh, bukan perasaan Iba yang dirasakan Reva malah sebalinya dia tersenyum menakutkan, dan tepat saat lidanya menyentuh batang leher si kecil “KRAK!” hanya sekali gigit, leher itu patah meninggalkan bekas robek dan kelurlah darah segar mengalir memenuhi mulut dan wajah Reva. Tangisan sikecil berhenti.  Ada sensasi aneh saat merasakan darah itu mengalir ke tenggorokannya dan menyentuh ususnya. Rasa laparnya selama berminggu-minggu memaksanya merobek leher mungil itu semakin lebar. Habislah sudah kehidupan sikecil. Nafasnya telah hilang. Dia harus menerima nasib sebagai yang di “korbankan”. Yah! Reva telah memilih menyelamatkan tiga kehidupan yaitu kehidupannya dan kedua anaknya dan mengorbankan kehidupan si kecil.
Pagi harinya saat sang majikan bangun, betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan mengerikan didepan mata. Mereka melihat kedua anak Reva sedang menyusu ke ibunya sedangkan ibunya sendiri sedang memakan bangkai anaknya yang lain yang ia mangsa semalam. Tanpa rasa bersalah, dengan rakus Reva menjilati usus si anak yang mulai berceceran dilantai..

PS: Reva itu nama kucing peliharaan. :D

Kisah diatas saya alami sendiri. Saat bangun pagi tiba-tiba liat kucing peliharaan makan anaknya sendiri bikin bulu kuduk merinding, sepupu saya bahkan berkaca-kaca matanya karena kasihan hohoho . Tentu hal itu bikin seisi rumah pada syok. Adek saya bilang itu bukan induknya yang makan tapi tikus, trus dia juga bilang anaknya itu emang udah mati jadi di makan, yang terakhir yang paling logis menurut saya karena induk kucing kelaparan. Maklum lah kitakan pada ngontrak jadi tiap harinya makan mie instan sama nasi. Jarang banget beli ikan apalagi di tanggal-tanggal tua. Nah, mungkin imbasnya ini ke kucing peliharaan. Kita jarang kasih makan. (wong, kita aja sukur2 bisa makan sehari hiks). Setelah baca artikel sana sini, di dapatlah kesimpulan bahwa induk kucing bisa memakan anaknya sendiri karena beberapa factor salah satunya karena kelaparan. Sadis yah..

Terkahir saya mau ucapin selamat tinggal dan terima kasih buat si kecil, pengorbananmu sudah membuka hati kami dan akhirnya ke pasar beli ikan kering lima ribu buat jadiin makanan emaknya biar saudaranya yang lain kagak di embat juga.

Thanks yang udah mampir.. sampai berjumpa di post selanjutnya..

25 februari 2017 Mks


Nurul Fitrah S

Jumat, 17 Februari 2017

The Black Butterfly

Kupu-kupu Hitam

       Suatu hari hiduplah seekor kupu-kupu yang cantik. Kelopaknya hitam dengan titik warna putih di pinggirnya. Kupu-kupu itu senang berterbangan kesana-kemari mencari makan di taman bunga yang indah nan luas. Ketika hinggap di dahan sebuah pohon tua dia melihat setangkai bunga mawar merah yang tumbuh diantara berbagai bunga ditaman. Semua bunga Nampak sangat memikat dengan berbagai warna dan bentuk namun bunga mawar itu benar-benar memukau sang kupu-kupu. Kelopaknya indah, ada embun melekat di atasnya, tangkainya berdiri kokoh, namun lazimnya bunga mawar, ia berduri.
       Setiap sore menjelang magrib, sang kupu-kupu selalu berkumpul bersama kupu-kupu yang lain di pinggir sungai. Air yang sejuk dan ikan-ikan yang ramah membuat mereka senang berkumpul disana. Kupu-kupu hitam menceritakan apa yang dia temukan tadi pagi.

“kamu jangan dekat-dekat dengan mawar. Mereka memang cantik tapi berduri.. ihhhh” kupu-kupu kuning mencoba memperingati. Sayapnya dikebas-kebaskan tanda ketakutan.

Kupu-kupu ungu yang bertengger di dahan ikut menimpali. “iya, mereka juga pandai menipu. Aku pernah hampir mereka tipu namun nasib baik berpihak padaku. Aku selamat.”

“daripada kita mengurus si mawar mending kita ke sana yuk, disana ada bunga kembang sepatu. Nektarnya manis.” Kupu-kupu yang lain kemudian bergegas terbang mengikuti kupu-kupu hijau.

“kamu tidak ikut?” Kupu-kupu biru mengajak kupu-kupu hitam yang tidak ikut terbang dengan yang lain. “kalian duluanlah, nanti aku menyusul” balasnya. Dalam hati Ia tidak percaya ucapan temannya.

      Pesona sang mawar telah menyihir sang kupu-kupu hitam. Keesokan paginya kupu-kupu hitam terbang menemui mawar. Dia masih penasaran dengan “kecantikan” mawar itu. dan juga ingin membuktikan ucapan temannya.

“hai, kupu-kupu yang cantik,  kenapa kamu sedari tadi kuperhatikan hanya terbang diatasku. Mari hinggaplah di kelopakku dan hisaplah nektarku.” Mawar berkata ramah.

     Kupu-kupu hitam menatap mawar. Dan wow.. cahaya matahari pagi yang kekuningan menerpa mawar menjadikannya makin menarik. Hampir saja dia hinggap namun ia mengingat kata-kata temannya.

“tidak! kata teman-temanku kamu itu jahat! Ada U dibalik B! kamu pasti memiliki niat buruk kan? kupu-kupu hitam masih berputar-putar diatas mawar.

“huhuhu… selama ini aku selalu mencoba ramah kepada semua namun ternyata ini balasan yang aku terima” mawar tiba-tiba menangis, membuat beberapa kepoknya layu. “aku selalu ingin berbagi nektarku dengan kupu-kupu, kumbang atau lebah. Aku tahu kalau mereka menyukai nectar walaupun aku tahu nekatarku tidak semanis bunga yang lain tapi aku benar-benar tulus ingin berbagai.”

      Isakan mawar semakin keras, kini tangkainya yang kokoh mulai berkerut, menunduk. kupu-kupu hitam yang melihat mawar sedih ikutan sedih. Dia lalu menghibur mawar. “aku minta maaf mawar, sepertinya teman-temanku telah salah paham kepadamu. Aku percaya padamu. Sekarang berhentilah menangis sebelum seluruh kelopakmu terlepas dan tangkaimu roboh.

     Setelah mendengar ucapan kupu-kupu hitam, mawar lalu tersenyum. Suasana hatinya membaik namun tidak dengan kelopak dan tangkainya. Sepertinya tenaganya terkuras karena menangis.

“terima kasih kupu-kupu hitam, setidaknya sebelum aku pergi ada seseorang yang mempercayaiku dan ingin menjadi temanku.” Mawar semakin layu.
“Oh, tidak. apa yang terjadi padamu?”
“kami bangsa mawar, hanya bisa menangis sekali dalam hidup kami. Karena setelah itu kami akan mati. Selamat tinggal kawan, lepas senja nanti aku akan pergi untuk selamanya.” Tubuh mawar hampir rubuh di tanah.

      Kupu-kupu hitam panik, kejadian itu diluar perkiraanya. Awalnya dia hanya ingin membuktikan gossip yang beredar tapi mawar justru akan mati karena berita tersebut. Sungai! Yah, ada sungai di taman itu. kupu-kupu hitam ingat setelah hujan bunga-bunga kembali mekar. Dia sangat menyukai pemandangan itu. bunga-bunga seperti bangun kembali berkat disiram oleh kesejukkan air hujan dibawah naungan pelangi.kupu lalu bergegas kesungai, mengabil air kemudian terbang ke tempat mawar dan menyiramkan air dibawah tangkainya. Begitu terus menerus sampai mawar kembali sadar.

“Oh, kupu-kupu hitam, terima kasih. Aku kira hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini.” mawar mengucapkan terima kasih kepada kupu-kupu hitam yang terlihat lelah. Iyalah lelah, dengan tangan kecilnya entah berapa kali kupu-kupu hitam terbang bolak balik dari sungai kembali ke mawar membawa sedikit air yang tidak sebanding dengan tangkai mawar yang besar.

“Sebagai ucapan terima kasihku, mari, hisaplah nectarku ini. semoga bisa mengembalikan tenagamu.”
Kupu-kupu menurut. Sret sret sret..nihil, tidak ada apa-apa disana. Kering kerontang.

“ah, ya. Aku baru ingat. Aku belum bisa menghasilkan nectar selama beberapa minggu kedepan. Mungkin aku harus menunggu sampai hujan datang.” mawar Nampak sangat menyesal tidak bisa memberikan apa-apa kepada kupu-kupu hitam.
“kau tidak usah menunggu hujan,mawar. Aku yang akan mendatangkan air untukmu.” Kupu-kupu hitam yang baik hati menawarkan bantuan kepada mawar.

       Keesokan paginya, mulailah aktifitas kupu-kupu hitam. Terbang dari satu dahan kedahan yang lain lalu menuju kesungai, mengambil sebanyak mungkin air yang bisa ditampung oleh tangan mungilnya lalu kembali ke tempat dimana mawar tumbuh,menyiraminya dengan air yang dijaga sebaik mungkin agar tidak tumpah dalam perjalanan. Begitu terus selama berhari-hari tanpa lelah dan tidak pernah mengeluh.

     Karena kesibukan itu, kupu-kupu hitam hampir tidak pernah mampir lagi sejenak untuk mengobrol dengan teman-temannya di sungai. “hai kawan, kemarilah sejenak. Sudah beberapa hari ini kau terlihat sangat sibuk.” Kupu-kupu merah jambu menyapanya tapi hanya mendapat senyuman simpul dari kupu-kupu hitam.

“iya, kami semua rindu kepadamu.” Kupu-kupu lain ikut menimpali. Kali ini kupu-kupu hitam diam.
“lihatlah dia, di telah dihasut oleh si mawar. Sampai-sampai dia tidak memperdulikan kita semua. Lebih baik kamu jauh-jauh dari mawar kalau tidak ingin menyesal”
“asal kalian tahu, kalian semua salah, mawar itu baik. Mulai sekarang aku akan mengikuti apa yang di inginkan oleh hatiku.”

    Dan sejak saat itu. hubungan diantara para kupu-kupu renggang. Mereka sudah tidak memperdulika lagi kupu-kupu hitam. “biarlah dia jalani hidupnya sendiri.” Begitu kata mereka.

     Semakin hari mawar semakin tumbuh, kelopknya semakin terbuka lebar, tangkainya semakin kokoh. Daunnya berubah menjadi semakin hujau  dan durinya semakin tajam. Semua itu berkat ketulusan kupu-kupu hitam membawakan air sedikit demi sedikit untuknya. Dan pada suatu hari ketika seluruh kelopaknya telah terbuka sempurna, jadilah mawar menjadi bunga terindah ditaman itu.
       Betapa bahagianya kupu-kupu hitam ketika melihat mawar telah mekar. Dengan hati gembira dia terbang keatas kelopak mawar. Ingin rasanya ia mencicipi nectar mawar yang segar. Dan BOOMMM… lihatlah, diatas sana. Seekor kumbang putih yang cantik dengan puasnya menghisap nectar mawar. Menyedotnya tanpa sisa. Nampak lahap sekali.

“apa yang kamu lakukan, pergi dari sini?! Ini adalah mawarku. Aku yang berhak mendapatkan nectar itu.” kupu-kupu hitam mengusir si kumbang. Namun yang membalas ucapan kasar kupu-kupu hitam bukanlah kumbang melainkan mawar.

“apa kamu bilang? Aku adalah milikmu? HAHAHAH.. kupu-kupu kamu benar-banar naïf sekali. Kamu pikir aku sudih hidup dengan mahluk berumur pendek sepertimu. Sana! Kau jangan menganggu kumbang cantik ini. dia jauh lebih hebat dari kamu.”

     Bak di sambar petir disiang bolong, kupu-kupu benar-benar terkejut sekali mendengar ucapan mawar. semua usaha yang ia lakukan, semua waktu yang ia habiskan, semua cinta yang ia persembahkan sia-sia, hampa, kosong. Betul kata teman-temannya, mawar memang penipu ulung!

      Kupu-kupu hitam tersentak memikirkan itu. teman-temannya? Diamana mereka sekarang? Saat itu, tidak ada yang lebih dibutuhkan kupu-kupu hitam selain teman-temannya. Tapi mereka telah pergi. Dengan tega dia telah menghianati persahabatannya demi mawar penghianat itu. “semua sudah terjadi. Aku menyesal.” Bisiknya dalam hati.

        Di tengah dinginnya udara malam, kupu-kupu hitam menyendiri dipinggir sungai. Tempat dia dan teman-temannya sering menhabiskan waktu bersama. Hiks, air matanya menetes. Hatinya sakit oleh dua hal yang sama. Penghianatan. Dia menunduk berpangku pada lututnya. Bahunya naik turun seirama dengan tetes air matanya yang semakin banyak. Udara semakin dingin, sepertinya akan ada badai.
      Persis ketika hujan turun, sebuah tangan mungil maraih tangannya. Beberapa yang lainnya memegang sayapnya menariknya menghindari hujan yang semakin deras membawanya berteduh di bawah dahan-dahan bunga kembang sepatu. Samar-samar ia melihat wajah-wajah itu, wajah yang sama yang ia lihat saat akan keluar dari tubuh kepompongnya dulu. Wajah-wajah temannya. Mereka tersenyum.
“Maafkan aku” kupu-kupu hitam menunduk masih menangis. Dia terlihat sangat menyesal. Hening sejenak.
Seekor kupu-kupu menyentuh pundaknya, “kami juga minta maaf, tidak seharusnya kami meninggalkanmu.” Ucapnya tulus.

        Kali kedua kupu-kupu hitam menatap satu-satu wajah temannya. Bibirnya berucap lirih “terima kasih” yang ditatap hanya tersenyum, kali ini senyum mereka semakin lebar dan pecah menjadi tawa kecil. Tangis kupu-kupu hitam berhenti. Ia ikut tertawa. Bahagia.

      Malam itu dibawah dahan bunga kembang sepatu, sekelompok kupu-kupu berjanji akan hidup bahagia bersama. Bukan berarti mereka akan akur selalu, tidak! akan ada pertengkaran kecil diantar mereka tapi itu tak apa karena apapun yang terjdi I would never let you go, I am here for you. Begitulah janji itu terpaut didalam hati mereka.
        Pagi harinya, kupu-kupu hitam bangun. Ia melihat pemandangan yang selalu ia sukai. Hujan tadi malam telah membangunkan bunga-bunga dengan siraman kesejukkan dibawah naungan pelangi. Sinar kekuningan matahari menyentuh hangat seluruh penghuni taman. Termasuk teman-temannya yang sedang menunggunya di pinggir sungai.  “hey, ayo kemari, coabalah nectar bunga kembang sepatu ini rasanya manis. Kamu belum coba kan?” kupu-kupu hitam tertawa begitupun teman-temannya.

Makassar, 18 Februari 2017


Nurul Fitrah S

Kamis, 16 Februari 2017

Kemana Perginya ?

Kemana perginya?

         Setelah menghabiskan separuh kudapan kecil yang kami buat. Sahabatku bersiap-siap untuk pulang kembali kerumahnya. Sesaat setelah ia berdiri hujan turun. “yah” gumamnya. Ia kembali duduk keposisi semula. “nantilah pulangnya setelah hujan reda.” Kataku sambil sesekali mengambil kudapan yang masih tersisa. Acara TV hari itu sama sekali tidak menarik. Semua tentang pemilihan pemerintah.
        Hujan semakin deras. Langit juga mulai gelap. Udara sejuk menyelimuti ruangan. Sambil sesekali melirik rintik hujan, sahabatku mulai menyeletuk. “apa kabara dia yah?” wajahnya tiba-tiba sendu.

“siapa?” tanyaku cuek. Dia tidak menjawab. Aku berpikir mungkin dia Cuma berbicara sendiri.
“Dia, tra”. Sahabatku kini melihatku. “kamu tahu kan? Dia…” sahabtaku berhenti berbicara. Seperti mengumpulkan tenaga untuk kembali berkata “dia temanku”. Aku tahu siapa yang dia maksud.
Pria itu adalah orang telah mencuri sepotong hatinya. Membawanya lari tanpa pernah mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkan sahabtaku dengan setengah hatinya yang sudah tak sempurna. Dengan berjuta pertanyaan yang tak terjawab.

        Aku mencoba mencari topic yang lain. Membicarakan masa lalu tidak selalu menyenangkan. Tapi semuanya buntu. Susasana saat itu benar-benar tidak mendukung. Aku melirik TV, kali-kali ada hal yang bisa menyelamatkan kami dari percakapan ini. tapi politik benar-benar tidak menarik.

“aku rindu dia” sahabatku menunduk. Matanya berkaca-kaca. Fix! I can’t survive. Semaunya telah dimulai. Sahabatku telah dikalahkan oleh persaannya sendiri.

“dulu, aku masih ingat. Kita berdua sering menghabiskan waktu berdua. Ke biskop, ke kampus, jalan kaki ke pantai. Sampai-sampai teman-teman kuliah bilang, dimana ada aku, disitu ada dia!” sahabatku tersenyum tetapi hanya sebentar.

“Dimana dia sekarang?”  aku bertanya
“Entah..” dia menjawab singkat. Senyap sejenak.

“hubungan kami hanya sebatas teman. Tapi Tidak bisa kupungkiri kalau ada perasaan diantara kami. Aku bisa merasaknnya. Namun setiap aku ingin melewati batas pertemanan itu, dia selalu menarikku menjauh.” Suaranya mulai bergetar. “hal ini selalu terjadi berulang-ulang. Sampai aku berada pada titik jenuh. aku tidak pernah berusaha untuk melanggar batas itu lagi dan Dia? Entahlah. Aku sudah tak ingin menabak-nebak perasaannya lagi. Aku menyerah.”
      Hujan diluar belum reda. Malah sesekali di iringi dengan Guntur. Acara di tv semakin membosankan.
       Sahabatku meraih ponselnya. Ada beberapa notikasi muncul. Setelah di cek satu-satu. Jari jemarinya berhenti saat membuka akun instagramnya. Dan settt. Hanya sekali geser. Terpampanglah sebuah foto. Dia dan pria itu. Tersenyum bahagia didalam foto itu. satu hal yang membuat foto special, yaitu ia tidak pernah mengubah kenangan walaupun orang-orang didalamnya telah berubah
.
“Sudahlah, kau harus move on. Ingat. Ada seseorang disampingmu sekarang dan dia berjuang sepenuh jiwa untuk memilikimu seutuhnya.”  Aku menatap sahabatku. Dengan tatapan bersungguh-singguh.

“aku tahu, aku tidak ingin berkhianat tapi ada ruang dihatiku yang tidak bisa dia miliki. Ruangan itu telah terkunci rapat, dan hanya dia yang memiliki kuncinya”. Wajah sahabatku semakin sendu. Ada setitik air diujung matanya.
        Amboyy. Benarlah kata orang. Cinta itu benar-benat rumit. Namun manusia tetap ingin bermain-main dengannya. Namun bagi sahabatku cinta dalam hidupnya adalah anugrah. Dia telah belajar bahwa cinta sesungguhnya adalah melerakan dan menerima. Merelakan dia yang ingin pergi dan menerima dia yang datang. Bagi sebagian wanita, mungkin lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita daripada orang yang kita cintai namun tidak mencintai kita. Apakah itu benar? Apakah Pria itu tidak mincintainya?
       Sahabatku tertegun. Menyadari kekeliruannya selama ini. Pria itu pergi meninggalkan dirinya saat tahu bahwa dirinya telah menjalin kasih dengan orang lain. Secara perlahan namun pasti, Pria itu mulai meninggalkan rutinitas mereka berdua. Jalan-jalan, bercanda, chatting hingga larut malam sampai salah satu dari mereka tertidur. Puncaknya saat pria itu memutus segala bentuk komunikasi mereka. Telepon, sosmed, pun bertemu tidak pernah.

“aku kira dia hanya merajuk. Dia sering melakukannya. Tidak menghubungiku berhari-hari. Aku tidak pernah tahu alasannya. Bagiku dia itu abu-abu daintara hitam dan putih. Dia seperti air mata yang jatuh dibawah rinangan hujan. Susah ditebak.” Sahabatku menghembuskan nafas lebih dalam.  Titik air itu semakin jelas. Tertampung. Hanya butuh di sentul maka semuanya akan tumpah.
“dan saat aku lengah..” sahabatku melanjutkan “dia telah berhasil pergi. dia meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan yang hingga kini  tidak sanggup kujawab.” Titik air itu semakin banyak dan akhirnya tumpah ruah membanjiri wajah sendu sahabatku yang semakin sendu. Sama seperti air matanya. Hatinya juga meronta-ronta. Jikalau kita bisa membuka hatinya, maka mungkin disudut ruangan terkunci itu kita bisa mendengar samar-samar suara sesuatu berbisik lirih. Sangat lirih hingga nyaris tak terdengar. Mungkin itulah suara hati yang terluka. “Apakau kau  juga mencintaiku?” diantara bisikannya terdengar pertanyaan itu. Berulang-ulang.
         Hujan diluar telah reda. Namun hati sahabatku tidak. luka lamannya tebuka kembali. Luka itu harus segera diobati. Caranya? Ruangan didalam hatinya harus segera dikosongkan, dikeluarkan semua isinya, kalau perlu dibakar. Rungan itu harus dibuka. Tapi bagaimana mungkin membuka sesuatu yang terkunci? Sedang pemilik kuncinya entah kemana….

Makassar, 16 februari 2017
Nurul Fitrah S ( antara A,A)