Sabtu, 04 Maret 2017

Dion & Lily

Aku mantap memasuki kefe diseberang jalan. Beberapa menit lalu mity menguatkanku. Semua ini demi kebaikan kalian katanya.
Setelah memilih tempat duduk, minuman dan snack seperti biasanya. Aku menatap pintu yang mengahadap dengan tempat dudukku. Ada beberapa orang yang masuk bersama pasangan, ada juga bersama teman-teman. Tidak seperti hari kemarin, pengunjung hari ini sangat ramai. Ah ya, ini malam minggu di penghjung tahun.
Jam di dinding telah menunjukkan angka sebelas tepat. Tapi orang yang kutunggu belum datang. Kuraih handphoneku dan mengirim sms ke mity. Beberapa saat sms balasan masuk. Mity ternyata masih sibuk dibridal. Ah tidak mungkin mengganggunya di saat seperti ini.
Kuraih lagi ponselku, ku baca baik-baik pesannya. “hari ini di café seberang jalan jam sebelas, aku ingin bertemu”. Aku tersenyum, pikiranku melayang mengingat masa-masa sembilan tahun yang lalu.
Pertemuan yang tidak disengaja membuatku berkenalan dengan Dion. Dan setelah beberapa kali bertemu aku tahu kalau dia menyukaiku.
Dion benar-benar petarung sejati, entah berapa  kali kutolak ia keukeh tetap mendekat. Semua hal romatis yang ia lihat di drama korea di praktikkan. Membawakan bunga, bernyanyi, dan menulis puisi romatis. Tapi semua itu sama sekali tidak berkesan buatku.
Setelah pulang kuliah, Dion mengajakku keluar. Ada kafe di seberang jalan yang baru buka. Aku nurut saja. Aku tidak pernah menolak ketika diajak nongkrong karena Dion orangnya easy going, humoris dan pendengar yang baik. Kau tahu, listening is sexy. Kata orang di film.
Begitulah hubungan ku berjalan dengan Dion. dia menyatakan perasaannya dengan segenap jiwa, aku menolaknya seketika itu juga., kemudian kami nongkrong hingga kopi di café terasa pahit. Kalau dipikir rasanya aneh juga. Semua orang tahu kalau kami hanya berteman, tapi tidak ada pria yang mendekatiku. Well, ini menguntungkaan juga. Aku bisa fokus kuliah tanpa diiringi drama PDKT lagi.
Tidak terasa masa-masa kuliah hampir selesai. Setelah berjuang selama empat tahun hari itu aku dan seluruh mahasiswa tingkat akhir di yudisium. Kami telah resmi bergelar sarjana. Ditengah gagap gempita teman-teman, aku mnacari sosok Dion. Hari ini dia juga di yudisium. Aku tidak percaya ini, biasanya dialah yang akan berlari mendekatiku tapi sekarang malah aku yang mencarinya. “dia udah pulang tadi” rupanya dia tahu kalau aku mencari Dion.
“Well, mungkin ntar malam dia nelpon.” Aku berusaha menutupi kenyataan bahwa aku mulai menginginkan keberadaanya. Tapi malamnya, handphone ku sama sekali tidak berdering. Dion telah menghilang. Pergi tanpa jejak,  Semua akun sosmednya di tutup, Kostannya kosong. Temannya tidak ada yang tahu dimana rumahnya. Ini benar-benar konyol, selama berteman dengan dia aku sama sekali tidak tahu apapun tentangnya. Padahal tiap hari dia menempeliku seperti anak bebek ikutin induknya.
Suara pintu café berderit membangunkanku dari lamunan itu, pengunjung malam ini semakin banyak saja. padahal sebentar lagi kafe ini mau di tutup. Aku melirik siapa gerangan yang masuk tadi. Orang itu Nampak celinguk menerawang seluruh penjuru café. Ah, itu Dion.  Badannya tinggi dan tegap. Wajahnya gagah dengan rahang tegas. Kemeja agak berantakan. Dan dia terseyum.  Senyum menawan yang baru ku sadari.
Kami mengobrol banyak hal, Dion masih seperti dulu, candaannya masih sama. Seperti tidak ada yang berubah. Seolah kami baru berpisah kemarin sore dan bertemu lagi malam harinya. Dan jika ia masih seperti dulu, maka saat seperti itu dia akan mulai mengutarakan perasaannya. Entah kenapa, aku menunggu dia melakukan itu. aku sudah siap. Bukan penolakan lagi yang akan aku berikan. Hanya simple “Yes” dan kami berdua menutup pergantian tahun itu dengan cerita yang baru.
“aku mau ngasih ini” Dion menyerahkan sepucuk surat berwarna merah.
Surat cinta? Lagi? Aku tersenyum malu-malu.
Ada yang aneh dari surat cinta itu, bentuknya terlalu besar, kertasnya keras, dan apa ini? namaku tertulis lengkap dengan titelnya di depan surat cinta itu. ini bukan surat cinta, ini.. ini.. undangan pernikahan! Dion mau nikah!
“apa maksudnya ini?” nada suaraku bergetar. Dion tampak bingung. “ini undangan, aku akan menikah.”
“what?”
“iya, seminggu lagi.”
“whaaatttt?”
“kamu kenapa?
“Tega kamu yah! Setelah pergi tanpa kata-kata, sekarang kamu datang bawa kabar mau nikah??” suaraku keluh. “kamu pikir aku apa hah?”
“kamu temanku.” JLEB! Dion benar, selama ini kami memang hanya berteman. “tapi dulu kamu selalu bilang kalau akan selalu menungguku Dion, sampai aku siap dan…”
“apa empat tahun tidak cukup Lily?” Dion memotong.
Diluar sana, kembang api di lepaskan, terompet di tiup keras-keras, semua orang bersuka cita menyambut tahun baru. Kecuali aku. Duduk termenung, Dion telah pergi meninggalkan café. Seorang pelayan merangkap pemilik café mendekatiku. “hai, bagaimana kabar kalian. Aku ingin menyapa kalian tadi tapi pengunjung sedang ramai.”  Dia membersihkan meja, mengambil gelas bakas cappuccino yang di pesan Dion. “wah, kalian akan menikah? Selamat yah.” Dia terseyum tulus. Ah, undangan itu. dia salah paham. “sembilan tahu lalu, saat café ini dibuka, pria itu yang menyumbangkan bunga lily untuk di pajang di seluruh sudut ruangan. Katanya wanita yang disukainya sangat menyukai bunga lily.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar