Sabtu, 25 Februari 2017

Perjuangan Reva

Arrrrghhhhhh….
Rasanya sakit sekali ketika sesuatu itu keluar dari rahim Reva. Berbulan-bulan dia rawat dengan penuh kasih sayang dan perjuangan akhirnya hari itu semua terbalaskan. Bukan main, tiga pasang bayi kembar. Satu laki-laki dan dua perempuan. Mereka imut dan menggemaskan sekali.
Setiap hari kegiatan Reva dipenuhi oleh kesibukkan mengurus si kecil. Di bersihkan, di elus-elus dan di susui. Menjadi seorang ibu ternyata sangat mengasikkan. Belum lagi majikan Reva yang senantiasa memberi dukungan kepadanya. Sebuah kamar khusus disediakan untuknya dan ketiga anak-anaknya.
Namun itu adalah kejadian sebulan yang lalu. Sebulan yang penuh dengan kasih sayang. Sekarang kehipan yang sebenarnya dimulai lagi. Setiap pagi setelah matahari terbit, dengan penuh semangat Reva mencari sesuap nasi dari satu tempat ke tempat lain. Tapi hasil yang didapat tidak sebanding dengan perjuangannya. Saat mentari mulai turun keperaduaanya, lelah menyinari bumi begitupun dengan Reva, dia pulang kembali dengan tenaga terkuras habis dan perut yang belum terisi.
Baru sampai di depan kamar, si anak mulai menangis tak karuan. Rupanya sejak siang tadi mereka kelaparan karena tidak ada yang memberi makan. “cup, cup, iya sayang. ibu ada disini” bisik Reva ketika mendekati anak-anaknya. Setelah memberikan ASI kepada anaknya, tiba-tiba kepala Reva pusing, matanya berkunang-kunang, seluruh badannya bergetar. “oh tidak, aku tidak mau mati sekarang, anak-anakku masih membutuhkanku.” Ucap Reva ditengah usahanya mecoba menguasai diri sendiri.
Kejadian itu sudah sering dialami Reva. Mungkin itu efek terlalu lelah mengerjakan semua tugas seorang ibu.  Belum lagi kondisinya yang baru melahirkan dan menyusui tentu memerlukan asupan kalori yang banyak.  Tidak  ada yang bisa menolongnya. Majikannya hanya mampu memberikan kamar sebagai tempat berlindung, selebihnya mereka tidak bisa membantu apa-apa karena majikannya juga sama-sama kekurangan makanan seperti dirinya. Apalah mau dikata, kehidpan tidak seindah dongeng sebelum tidur.
Setelah menyusui ketiga anaknya, Reva sudah tidak sanggup lagi, tubuhnya rubuh, tatapannya gelap, dia benar-benar lelah. Tidak ada kekuatan lagi untuk mencari sesuap nasi diluar sana, dia pingsan.
Reva tersadar oleh suara tangisan bayi-bayinya. Rupanya dia telah pingsan selama enam jam. Itu rekor terlama mengingat sebelum-sebelumnya dia hanya pingsan selama beberapa menit saja. “anakku pasti lapar.” Pikirnya dalam hati. Disusuilah kedua bayinya. Namun saat yang ketiga mulai menyusu, ternyata ASI Reva sudah tidak bisa keluar. Habis. Sontak saja hal ini membuat sikecil menangis sejadi-jadinya karena kelaparan. Sedangkan kedua suadaranya sudah tertidur pulas karena kekenyangan. Saat itulah muncul bisikan aneh didalam hati Reva.
“Tidak! Aku tidak boleh melakukan itu.” Reva mencoba melawan bisikan aneh didalam dirinya. Bisikan itu terus menerus menghantui Reva. “Kau akan menyelamatkan tiga kehidupan, pikirkanlah.” Begitulah bisikan itu terngiang didalam benak Reva.
Tangisan si bungsu membuat Reva semakin kalut. Perasasaan keibuannya benar-benar diuji. Reva melihat kedua anaknya yang tertidur pulas dan satu anaknya yang sedari tadi menangis tanpa henti. Beberapa saat kemudian, Reva sudah mebuat keputusan. Keputusan yang tidak bisa lagi diganggu gugat. Keputusan yang akan mengubah kehidupannya. “aku akan menyelamatkan tiga kehidupan.” Pikirnya mantap.
Reva menatap si kecil dengan tatapan tidak seperti biasanya. Lidanya mulai menjulur dan menjilati bagian kepala si bayi dilanjutkan keseluruh wajah. Tangisan sikecil semakin keras. Aneh, bukan perasaan Iba yang dirasakan Reva malah sebalinya dia tersenyum menakutkan, dan tepat saat lidanya menyentuh batang leher si kecil “KRAK!” hanya sekali gigit, leher itu patah meninggalkan bekas robek dan kelurlah darah segar mengalir memenuhi mulut dan wajah Reva. Tangisan sikecil berhenti.  Ada sensasi aneh saat merasakan darah itu mengalir ke tenggorokannya dan menyentuh ususnya. Rasa laparnya selama berminggu-minggu memaksanya merobek leher mungil itu semakin lebar. Habislah sudah kehidupan sikecil. Nafasnya telah hilang. Dia harus menerima nasib sebagai yang di “korbankan”. Yah! Reva telah memilih menyelamatkan tiga kehidupan yaitu kehidupannya dan kedua anaknya dan mengorbankan kehidupan si kecil.
Pagi harinya saat sang majikan bangun, betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan mengerikan didepan mata. Mereka melihat kedua anak Reva sedang menyusu ke ibunya sedangkan ibunya sendiri sedang memakan bangkai anaknya yang lain yang ia mangsa semalam. Tanpa rasa bersalah, dengan rakus Reva menjilati usus si anak yang mulai berceceran dilantai..

PS: Reva itu nama kucing peliharaan. :D

Kisah diatas saya alami sendiri. Saat bangun pagi tiba-tiba liat kucing peliharaan makan anaknya sendiri bikin bulu kuduk merinding, sepupu saya bahkan berkaca-kaca matanya karena kasihan hohoho . Tentu hal itu bikin seisi rumah pada syok. Adek saya bilang itu bukan induknya yang makan tapi tikus, trus dia juga bilang anaknya itu emang udah mati jadi di makan, yang terakhir yang paling logis menurut saya karena induk kucing kelaparan. Maklum lah kitakan pada ngontrak jadi tiap harinya makan mie instan sama nasi. Jarang banget beli ikan apalagi di tanggal-tanggal tua. Nah, mungkin imbasnya ini ke kucing peliharaan. Kita jarang kasih makan. (wong, kita aja sukur2 bisa makan sehari hiks). Setelah baca artikel sana sini, di dapatlah kesimpulan bahwa induk kucing bisa memakan anaknya sendiri karena beberapa factor salah satunya karena kelaparan. Sadis yah..

Terkahir saya mau ucapin selamat tinggal dan terima kasih buat si kecil, pengorbananmu sudah membuka hati kami dan akhirnya ke pasar beli ikan kering lima ribu buat jadiin makanan emaknya biar saudaranya yang lain kagak di embat juga.

Thanks yang udah mampir.. sampai berjumpa di post selanjutnya..

25 februari 2017 Mks


Nurul Fitrah S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar