Kemana perginya?
Setelah menghabiskan separuh kudapan kecil yang kami buat. Sahabatku bersiap-siap untuk pulang kembali kerumahnya. Sesaat setelah ia berdiri hujan turun. “yah” gumamnya. Ia kembali duduk keposisi semula. “nantilah pulangnya setelah hujan reda.” Kataku sambil sesekali mengambil kudapan yang masih tersisa. Acara TV hari itu sama sekali tidak menarik. Semua tentang pemilihan pemerintah.
Hujan semakin deras. Langit juga mulai gelap. Udara sejuk menyelimuti ruangan. Sambil sesekali melirik rintik hujan, sahabatku mulai menyeletuk. “apa kabara dia yah?” wajahnya tiba-tiba sendu.
“siapa?” tanyaku cuek. Dia tidak menjawab. Aku berpikir mungkin dia Cuma berbicara sendiri.
“Dia, tra”. Sahabatku kini melihatku. “kamu tahu kan? Dia…” sahabtaku berhenti berbicara. Seperti mengumpulkan tenaga untuk kembali berkata “dia temanku”. Aku tahu siapa yang dia maksud.
Pria itu adalah orang telah mencuri sepotong hatinya. Membawanya lari tanpa pernah mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkan sahabtaku dengan setengah hatinya yang sudah tak sempurna. Dengan berjuta pertanyaan yang tak terjawab.
Aku mencoba mencari topic yang lain. Membicarakan masa lalu tidak selalu menyenangkan. Tapi semuanya buntu. Susasana saat itu benar-benar tidak mendukung. Aku melirik TV, kali-kali ada hal yang bisa menyelamatkan kami dari percakapan ini. tapi politik benar-benar tidak menarik.
“aku rindu dia” sahabatku menunduk. Matanya berkaca-kaca. Fix! I can’t survive. Semaunya telah dimulai. Sahabatku telah dikalahkan oleh persaannya sendiri.
“dulu, aku masih ingat. Kita berdua sering menghabiskan waktu berdua. Ke biskop, ke kampus, jalan kaki ke pantai. Sampai-sampai teman-teman kuliah bilang, dimana ada aku, disitu ada dia!” sahabatku tersenyum tetapi hanya sebentar.
“Dimana dia sekarang?” aku bertanya
“Entah..” dia menjawab singkat. Senyap sejenak.
“hubungan kami hanya sebatas teman. Tapi Tidak bisa kupungkiri kalau ada perasaan diantara kami. Aku bisa merasaknnya. Namun setiap aku ingin melewati batas pertemanan itu, dia selalu menarikku menjauh.” Suaranya mulai bergetar. “hal ini selalu terjadi berulang-ulang. Sampai aku berada pada titik jenuh. aku tidak pernah berusaha untuk melanggar batas itu lagi dan Dia? Entahlah. Aku sudah tak ingin menabak-nebak perasaannya lagi. Aku menyerah.”
Hujan diluar belum reda. Malah sesekali di iringi dengan Guntur. Acara di tv semakin membosankan.
Sahabatku meraih ponselnya. Ada beberapa notikasi muncul. Setelah di cek satu-satu. Jari jemarinya berhenti saat membuka akun instagramnya. Dan settt. Hanya sekali geser. Terpampanglah sebuah foto. Dia dan pria itu. Tersenyum bahagia didalam foto itu. satu hal yang membuat foto special, yaitu ia tidak pernah mengubah kenangan walaupun orang-orang didalamnya telah berubah
.
“Sudahlah, kau harus move on. Ingat. Ada seseorang disampingmu sekarang dan dia berjuang sepenuh jiwa untuk memilikimu seutuhnya.” Aku menatap sahabatku. Dengan tatapan bersungguh-singguh.
“aku tahu, aku tidak ingin berkhianat tapi ada ruang dihatiku yang tidak bisa dia miliki. Ruangan itu telah terkunci rapat, dan hanya dia yang memiliki kuncinya”. Wajah sahabatku semakin sendu. Ada setitik air diujung matanya.
Amboyy. Benarlah kata orang. Cinta itu benar-benat rumit. Namun manusia tetap ingin bermain-main dengannya. Namun bagi sahabatku cinta dalam hidupnya adalah anugrah. Dia telah belajar bahwa cinta sesungguhnya adalah melerakan dan menerima. Merelakan dia yang ingin pergi dan menerima dia yang datang. Bagi sebagian wanita, mungkin lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita daripada orang yang kita cintai namun tidak mencintai kita. Apakah itu benar? Apakah Pria itu tidak mincintainya?
Sahabatku tertegun. Menyadari kekeliruannya selama ini. Pria itu pergi meninggalkan dirinya saat tahu bahwa dirinya telah menjalin kasih dengan orang lain. Secara perlahan namun pasti, Pria itu mulai meninggalkan rutinitas mereka berdua. Jalan-jalan, bercanda, chatting hingga larut malam sampai salah satu dari mereka tertidur. Puncaknya saat pria itu memutus segala bentuk komunikasi mereka. Telepon, sosmed, pun bertemu tidak pernah.
“aku kira dia hanya merajuk. Dia sering melakukannya. Tidak menghubungiku berhari-hari. Aku tidak pernah tahu alasannya. Bagiku dia itu abu-abu daintara hitam dan putih. Dia seperti air mata yang jatuh dibawah rinangan hujan. Susah ditebak.” Sahabatku menghembuskan nafas lebih dalam. Titik air itu semakin jelas. Tertampung. Hanya butuh di sentul maka semuanya akan tumpah.
“dan saat aku lengah..” sahabatku melanjutkan “dia telah berhasil pergi. dia meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan yang hingga kini tidak sanggup kujawab.” Titik air itu semakin banyak dan akhirnya tumpah ruah membanjiri wajah sendu sahabatku yang semakin sendu. Sama seperti air matanya. Hatinya juga meronta-ronta. Jikalau kita bisa membuka hatinya, maka mungkin disudut ruangan terkunci itu kita bisa mendengar samar-samar suara sesuatu berbisik lirih. Sangat lirih hingga nyaris tak terdengar. Mungkin itulah suara hati yang terluka. “Apakau kau juga mencintaiku?” diantara bisikannya terdengar pertanyaan itu. Berulang-ulang.
Hujan diluar telah reda. Namun hati sahabatku tidak. luka lamannya tebuka kembali. Luka itu harus segera diobati. Caranya? Ruangan didalam hatinya harus segera dikosongkan, dikeluarkan semua isinya, kalau perlu dibakar. Rungan itu harus dibuka. Tapi bagaimana mungkin membuka sesuatu yang terkunci? Sedang pemilik kuncinya entah kemana….
Nurul Fitrah S ( antara A,A)
Tulisannya bagus....keren!
BalasHapusmakasih.. :)
Hapus