Jumat, 17 Februari 2017

The Black Butterfly

Kupu-kupu Hitam

       Suatu hari hiduplah seekor kupu-kupu yang cantik. Kelopaknya hitam dengan titik warna putih di pinggirnya. Kupu-kupu itu senang berterbangan kesana-kemari mencari makan di taman bunga yang indah nan luas. Ketika hinggap di dahan sebuah pohon tua dia melihat setangkai bunga mawar merah yang tumbuh diantara berbagai bunga ditaman. Semua bunga Nampak sangat memikat dengan berbagai warna dan bentuk namun bunga mawar itu benar-benar memukau sang kupu-kupu. Kelopaknya indah, ada embun melekat di atasnya, tangkainya berdiri kokoh, namun lazimnya bunga mawar, ia berduri.
       Setiap sore menjelang magrib, sang kupu-kupu selalu berkumpul bersama kupu-kupu yang lain di pinggir sungai. Air yang sejuk dan ikan-ikan yang ramah membuat mereka senang berkumpul disana. Kupu-kupu hitam menceritakan apa yang dia temukan tadi pagi.

“kamu jangan dekat-dekat dengan mawar. Mereka memang cantik tapi berduri.. ihhhh” kupu-kupu kuning mencoba memperingati. Sayapnya dikebas-kebaskan tanda ketakutan.

Kupu-kupu ungu yang bertengger di dahan ikut menimpali. “iya, mereka juga pandai menipu. Aku pernah hampir mereka tipu namun nasib baik berpihak padaku. Aku selamat.”

“daripada kita mengurus si mawar mending kita ke sana yuk, disana ada bunga kembang sepatu. Nektarnya manis.” Kupu-kupu yang lain kemudian bergegas terbang mengikuti kupu-kupu hijau.

“kamu tidak ikut?” Kupu-kupu biru mengajak kupu-kupu hitam yang tidak ikut terbang dengan yang lain. “kalian duluanlah, nanti aku menyusul” balasnya. Dalam hati Ia tidak percaya ucapan temannya.

      Pesona sang mawar telah menyihir sang kupu-kupu hitam. Keesokan paginya kupu-kupu hitam terbang menemui mawar. Dia masih penasaran dengan “kecantikan” mawar itu. dan juga ingin membuktikan ucapan temannya.

“hai, kupu-kupu yang cantik,  kenapa kamu sedari tadi kuperhatikan hanya terbang diatasku. Mari hinggaplah di kelopakku dan hisaplah nektarku.” Mawar berkata ramah.

     Kupu-kupu hitam menatap mawar. Dan wow.. cahaya matahari pagi yang kekuningan menerpa mawar menjadikannya makin menarik. Hampir saja dia hinggap namun ia mengingat kata-kata temannya.

“tidak! kata teman-temanku kamu itu jahat! Ada U dibalik B! kamu pasti memiliki niat buruk kan? kupu-kupu hitam masih berputar-putar diatas mawar.

“huhuhu… selama ini aku selalu mencoba ramah kepada semua namun ternyata ini balasan yang aku terima” mawar tiba-tiba menangis, membuat beberapa kepoknya layu. “aku selalu ingin berbagi nektarku dengan kupu-kupu, kumbang atau lebah. Aku tahu kalau mereka menyukai nectar walaupun aku tahu nekatarku tidak semanis bunga yang lain tapi aku benar-benar tulus ingin berbagai.”

      Isakan mawar semakin keras, kini tangkainya yang kokoh mulai berkerut, menunduk. kupu-kupu hitam yang melihat mawar sedih ikutan sedih. Dia lalu menghibur mawar. “aku minta maaf mawar, sepertinya teman-temanku telah salah paham kepadamu. Aku percaya padamu. Sekarang berhentilah menangis sebelum seluruh kelopakmu terlepas dan tangkaimu roboh.

     Setelah mendengar ucapan kupu-kupu hitam, mawar lalu tersenyum. Suasana hatinya membaik namun tidak dengan kelopak dan tangkainya. Sepertinya tenaganya terkuras karena menangis.

“terima kasih kupu-kupu hitam, setidaknya sebelum aku pergi ada seseorang yang mempercayaiku dan ingin menjadi temanku.” Mawar semakin layu.
“Oh, tidak. apa yang terjadi padamu?”
“kami bangsa mawar, hanya bisa menangis sekali dalam hidup kami. Karena setelah itu kami akan mati. Selamat tinggal kawan, lepas senja nanti aku akan pergi untuk selamanya.” Tubuh mawar hampir rubuh di tanah.

      Kupu-kupu hitam panik, kejadian itu diluar perkiraanya. Awalnya dia hanya ingin membuktikan gossip yang beredar tapi mawar justru akan mati karena berita tersebut. Sungai! Yah, ada sungai di taman itu. kupu-kupu hitam ingat setelah hujan bunga-bunga kembali mekar. Dia sangat menyukai pemandangan itu. bunga-bunga seperti bangun kembali berkat disiram oleh kesejukkan air hujan dibawah naungan pelangi.kupu lalu bergegas kesungai, mengabil air kemudian terbang ke tempat mawar dan menyiramkan air dibawah tangkainya. Begitu terus menerus sampai mawar kembali sadar.

“Oh, kupu-kupu hitam, terima kasih. Aku kira hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini.” mawar mengucapkan terima kasih kepada kupu-kupu hitam yang terlihat lelah. Iyalah lelah, dengan tangan kecilnya entah berapa kali kupu-kupu hitam terbang bolak balik dari sungai kembali ke mawar membawa sedikit air yang tidak sebanding dengan tangkai mawar yang besar.

“Sebagai ucapan terima kasihku, mari, hisaplah nectarku ini. semoga bisa mengembalikan tenagamu.”
Kupu-kupu menurut. Sret sret sret..nihil, tidak ada apa-apa disana. Kering kerontang.

“ah, ya. Aku baru ingat. Aku belum bisa menghasilkan nectar selama beberapa minggu kedepan. Mungkin aku harus menunggu sampai hujan datang.” mawar Nampak sangat menyesal tidak bisa memberikan apa-apa kepada kupu-kupu hitam.
“kau tidak usah menunggu hujan,mawar. Aku yang akan mendatangkan air untukmu.” Kupu-kupu hitam yang baik hati menawarkan bantuan kepada mawar.

       Keesokan paginya, mulailah aktifitas kupu-kupu hitam. Terbang dari satu dahan kedahan yang lain lalu menuju kesungai, mengambil sebanyak mungkin air yang bisa ditampung oleh tangan mungilnya lalu kembali ke tempat dimana mawar tumbuh,menyiraminya dengan air yang dijaga sebaik mungkin agar tidak tumpah dalam perjalanan. Begitu terus selama berhari-hari tanpa lelah dan tidak pernah mengeluh.

     Karena kesibukan itu, kupu-kupu hitam hampir tidak pernah mampir lagi sejenak untuk mengobrol dengan teman-temannya di sungai. “hai kawan, kemarilah sejenak. Sudah beberapa hari ini kau terlihat sangat sibuk.” Kupu-kupu merah jambu menyapanya tapi hanya mendapat senyuman simpul dari kupu-kupu hitam.

“iya, kami semua rindu kepadamu.” Kupu-kupu lain ikut menimpali. Kali ini kupu-kupu hitam diam.
“lihatlah dia, di telah dihasut oleh si mawar. Sampai-sampai dia tidak memperdulikan kita semua. Lebih baik kamu jauh-jauh dari mawar kalau tidak ingin menyesal”
“asal kalian tahu, kalian semua salah, mawar itu baik. Mulai sekarang aku akan mengikuti apa yang di inginkan oleh hatiku.”

    Dan sejak saat itu. hubungan diantara para kupu-kupu renggang. Mereka sudah tidak memperdulika lagi kupu-kupu hitam. “biarlah dia jalani hidupnya sendiri.” Begitu kata mereka.

     Semakin hari mawar semakin tumbuh, kelopknya semakin terbuka lebar, tangkainya semakin kokoh. Daunnya berubah menjadi semakin hujau  dan durinya semakin tajam. Semua itu berkat ketulusan kupu-kupu hitam membawakan air sedikit demi sedikit untuknya. Dan pada suatu hari ketika seluruh kelopaknya telah terbuka sempurna, jadilah mawar menjadi bunga terindah ditaman itu.
       Betapa bahagianya kupu-kupu hitam ketika melihat mawar telah mekar. Dengan hati gembira dia terbang keatas kelopak mawar. Ingin rasanya ia mencicipi nectar mawar yang segar. Dan BOOMMM… lihatlah, diatas sana. Seekor kumbang putih yang cantik dengan puasnya menghisap nectar mawar. Menyedotnya tanpa sisa. Nampak lahap sekali.

“apa yang kamu lakukan, pergi dari sini?! Ini adalah mawarku. Aku yang berhak mendapatkan nectar itu.” kupu-kupu hitam mengusir si kumbang. Namun yang membalas ucapan kasar kupu-kupu hitam bukanlah kumbang melainkan mawar.

“apa kamu bilang? Aku adalah milikmu? HAHAHAH.. kupu-kupu kamu benar-banar naïf sekali. Kamu pikir aku sudih hidup dengan mahluk berumur pendek sepertimu. Sana! Kau jangan menganggu kumbang cantik ini. dia jauh lebih hebat dari kamu.”

     Bak di sambar petir disiang bolong, kupu-kupu benar-benar terkejut sekali mendengar ucapan mawar. semua usaha yang ia lakukan, semua waktu yang ia habiskan, semua cinta yang ia persembahkan sia-sia, hampa, kosong. Betul kata teman-temannya, mawar memang penipu ulung!

      Kupu-kupu hitam tersentak memikirkan itu. teman-temannya? Diamana mereka sekarang? Saat itu, tidak ada yang lebih dibutuhkan kupu-kupu hitam selain teman-temannya. Tapi mereka telah pergi. Dengan tega dia telah menghianati persahabatannya demi mawar penghianat itu. “semua sudah terjadi. Aku menyesal.” Bisiknya dalam hati.

        Di tengah dinginnya udara malam, kupu-kupu hitam menyendiri dipinggir sungai. Tempat dia dan teman-temannya sering menhabiskan waktu bersama. Hiks, air matanya menetes. Hatinya sakit oleh dua hal yang sama. Penghianatan. Dia menunduk berpangku pada lututnya. Bahunya naik turun seirama dengan tetes air matanya yang semakin banyak. Udara semakin dingin, sepertinya akan ada badai.
      Persis ketika hujan turun, sebuah tangan mungil maraih tangannya. Beberapa yang lainnya memegang sayapnya menariknya menghindari hujan yang semakin deras membawanya berteduh di bawah dahan-dahan bunga kembang sepatu. Samar-samar ia melihat wajah-wajah itu, wajah yang sama yang ia lihat saat akan keluar dari tubuh kepompongnya dulu. Wajah-wajah temannya. Mereka tersenyum.
“Maafkan aku” kupu-kupu hitam menunduk masih menangis. Dia terlihat sangat menyesal. Hening sejenak.
Seekor kupu-kupu menyentuh pundaknya, “kami juga minta maaf, tidak seharusnya kami meninggalkanmu.” Ucapnya tulus.

        Kali kedua kupu-kupu hitam menatap satu-satu wajah temannya. Bibirnya berucap lirih “terima kasih” yang ditatap hanya tersenyum, kali ini senyum mereka semakin lebar dan pecah menjadi tawa kecil. Tangis kupu-kupu hitam berhenti. Ia ikut tertawa. Bahagia.

      Malam itu dibawah dahan bunga kembang sepatu, sekelompok kupu-kupu berjanji akan hidup bahagia bersama. Bukan berarti mereka akan akur selalu, tidak! akan ada pertengkaran kecil diantar mereka tapi itu tak apa karena apapun yang terjdi I would never let you go, I am here for you. Begitulah janji itu terpaut didalam hati mereka.
        Pagi harinya, kupu-kupu hitam bangun. Ia melihat pemandangan yang selalu ia sukai. Hujan tadi malam telah membangunkan bunga-bunga dengan siraman kesejukkan dibawah naungan pelangi. Sinar kekuningan matahari menyentuh hangat seluruh penghuni taman. Termasuk teman-temannya yang sedang menunggunya di pinggir sungai.  “hey, ayo kemari, coabalah nectar bunga kembang sepatu ini rasanya manis. Kamu belum coba kan?” kupu-kupu hitam tertawa begitupun teman-temannya.

Makassar, 18 Februari 2017


Nurul Fitrah S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar